Cerpen Pertama

Hi! Ini post pertama untuk blog ini. Sebenarnya bingung mau post apa, tapi ini aja deh. Aku mulai nulis cerpen dari tahun 2015 kelas XI SMK dan tentu saja masih jelek sekali. Menulis cerpen memang hal baru untukku, minat baca waktu itu juga masih rendah.

Cerpen ini bukan cerpen yang pertama kali kutulis. Tapi cerpen ini yang pertama kali dibukukan dalam sebuah antologi cerpen hasil lomba cerpen yang diadakan penerbit Kobarsa Media.

Happy Reading, yaa

🐼 🐼 🐼

Bayangan Jingga

5
“Bukan cinta seperti itu yang kuinginkan.” Gadis senja menunduk. Ujung kuncirnya merosot di tepi leher jenjangnya. Bibirnya terkatup gemetar hatinya, marapat tanpa celah. Sayup hela napas lembut tersulut di antara hentak jantungnya yang racau. Aku tahu hatinya bergejolak demi kalimat yang baru saja ia katakan. Aku telah mengenalnya lama. Semenjak kelas tujuh di bangku SMP, hanya seorang diriku yang berada disisinya. Menemaninya membaca buku setiap hari di kamarnya penuh warna jingga. Seringkali aku mengemas senyumnya ketika dirinya yang tak pernah bisa menangis, selain satu hal yang…benar-benar menyakiti hatinya.

“Cinta seperti apa yang kau inginkan?” suaraku melemah. Nadaku terjatuh tak jauh dari telingaku sendiri. Tak cukup mengubah gadis itu kembali menatap siluet hitam di mataku. Tangannya bertaut, seperti mengikat dirinya sendiri untuk dunia di luar sana seperti biasanya. Gadis senja tetap  bergeming dengan beribu dialog dalam benaknya. Sorot matanya mencari kata yang ia ingin gambarkan tentang cintanya. Cinta yang bahkan tak pernah ia kenal selama ini, juga sampai kapan pun.

“Kamu yakin, dengan pilihanmu? Aku rasa kamu hanya tak ingin terluka.” mataku menatap matanya lamat mencari jawaban. Ia mengangguk, dan aku bisa merasakan keraguannya.

“Apa Ayahmu memukul Ibumu lagi?” tangan kiriku mengelus punggung tangannya. Dan yang lain menghapus jejak sungai di gemunung pipinya. Gadis senja mengangguk. Warna senjanya berubah menjadi jingga penuh bayangan. Bayangan dirinya sendiri tanpa orang lain di sisinya.

“Aku tak mengerti. Mengapa Ibu tidak bercerai saja? Aku tak ingin melihatnya selalu membendung tangis dalam senyum. Bukankah Ia menanam sebilah belati dalam hatinya sendiri?” Kemarahannya buncah. Sesegukkan menbuat tubuhnya terguncang hebat.

“Karena dia ingin dalam sebuah pernikahan, adalah pilihan yang bernilai satu. Ada awalan namun dia tak ingin ada akhiran meski ada jalan perceraian. Aku yakin Ibumu kuat untuk dirimu, harta paling berharga miliknya,” sebisa mungkin aku menenangkan hatinya, aku yakin bisa seperti saat dia mengadu tangisnya berkali-kali sebelumnya.

“Tapi lelaki itu tak pantas untuk kesetiaannya” 

“Ibumu tak ingin membuatmu menjadi anak yang orang tuanya bercerai.”

“Aku tak apa jika menjadi seperti itu, dan itu jauh lebih baik.” suara paraunya meninggi. Isakan itu membuatku juga merasakan sakit yang ia tanggung selama ini.

“Asa, tunggu!” Gadis itu berlari dari sudut kantor. Teratur peraduan sepatu datarnya dengan lantai berubin besar. Rambutnya dikuncir rendah, tanpa poni yang biasanya sebagai tirai dahinya ketika SMA. Dia terlalu tua untuk berlarian seperti itu, guncang larinya mengangkat anak rambutnya, membuatnya berantakan. Meski dia tampak tetap segar, tidak sepertiku yang lusuh. Juga, cantik.

Senyumnya pudar, tak terlihat menilik di tepi bibir jingganya. Namun mataku cukup menangkap bayangnya, ketika gadis itu menemukan cinta. Dia nampak berbinar sepanjang bercerita. Senyum palsunya benar-benar tak tersamarkan.

“Asa, kamu tahu? Cinta itu, sungguh membuatku memaknainya amat dalam. Aku bisa melakukan apa pun yang kumau, tanpa seorang pun yang melarang,” jelasnya kemudian bersama senyumnya yang melebar. Aku tertegun. Ada apa dengan gadis ini? Secara tiba-tiba datang dan berkata hal absurd begitu saja. 

Aku yakin, tak ada laki-laki yang dekat dengannya selain aku. Yang lain sebatas teman kelompok belajar dari tugas yang diberikan guru. Sudah lama, semenjak pertama kami masuk masa remaja, dan temannya sebelumnya adalah perempuan yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Itu pun hanya beberapa yang di kenalnya semenjak duduk taman kanak-kanak.

Setiap hari aku selalu datang ke rumahnya atau sebaliknya. Ibunya dan ibuku juga berteman dekat. Satu-satunya laki-laki idolanya adalah ayahku. Dia selalu memujinya di depanku. Bahkan saat aku belum mengetahui apa-apa, dia pernah berkata. “Andai aku menjadi anak perempuannya, bukankah Ayahmu ingin anak perempuan?”

Ya, aku adalah anak tunggal dan dia perempuan. Tapi dia juga punya ayah, dan dia juga anak tunggal. 

“Dan kau menjadi adikku? Sampai kapan pun aku tak mau. Aku hanya ingin menjadi temanmu, atau yang lebih.”  Matanya membulat sempurna, sedang mataku hanya bergerak ke kanan kiri tak mengerti. Oh, aku tahu! Aku berkata…

“Maksudmu, menjadi…PEMBANTU?” lalu tawanya terpecah tak kalah sempurna. Ah, aku tak percaya dia mengatakan hal itu, aku tak suka bercanda, tapi setidaknya dia tak mengerti apa yang kukatakan barusan. Itu melegakan.

“Kau, aku tak mau menemanimu memburu buku lagi,” aku meninggalkannya setelah dengan tegas mengatakannya. Berlalu dari kamarnya yang bertirai terbuka. Meski tak kupungkiri,  jantungku berdetak menyebalkan di depannya. Menjadi alasan yang cukup untuk merutuki diri sendiri. Sekeping keberanian yang sangat sulit kudapatkan. Di depannya, yang sudah lama kukenal. 

“Hey, kamu masih berhutang penjelasan padaku. Kamu lupa? Sahabat macam apa kamu,” cengkrama tangannya di lenganku menuntunku untuk duduk di bangku panjang berplikstur coklat mengilat. Sedang dia berdiri di tepi balkon, memunggungi matahari yang mulai rebah. Dia benar-benar menjadi bayang sekarang. Namun cukup bersinar.

“Bukankah sudah kubilang? Itu tidak penting.”

“Bagiku, itu sangat penting. Sekarang, coba jelaskan bagaimana mungkin senja itu kelabu?” kekanakan gadis senja memang tak pernah pudar. 

“Aya, kau tahu, di mana letak senja?” akhirnya aku menyerah membuatnya lelah mengejar penjelasanku. 

Kedua tangannya berpeluk erat di depan dada. Dahinya masih berkerut dalam, beberapa mikrosenti saja alisnya akan menyatu.

“Tentu saja barat. Mana mungkin matahari terbenam di utara, selatan, apalagi timur.” Pelukan tangannya semakin erat.

“Ya, kau benar. Dan jika kau melihat ke arah yang kau sebut tadi, akan sepenuhnya kau temukan kelabu.” Mataku menatapnya lembut. Seperti biasa tak pernah ada canda dari orang sepertiku. Dan aku yakin gadis senja telah mengenalku dengan baik.

Kerutan di dahinya menipis. Ada sebuah luka yang ia simpan untuk cintanya, masih mendasar di kedua mata. Cinta yang tak semua orang dapat mengenalnya. Tak ada.

“Pantaskah kau sebut senja itu jingga? Ketika lainnya kelabu yang pekat. Seperti kau hidup dalam bayangmu. Dan hanya seorang dirimu saja di sana.” 

“Tapi…”

“Seseorang adalah tokoh utama dalam dunianya. Seperti matahari di antara senja. Dia tokoh utama seperti dirimu, dan bayangan jingga adalah duniamu. Bagaimana dengan kelabu? Sebuah tokoh yang memang seharusnya ada pada dunia yang sama, dan mereka penting…” Bibir gadis senja terkatup, “… Oleh karena itu, di dunia ini. Tak cukup dirimu saja yang bahagia,” suaraku cukup yakin, namun tak sedikit pun niat melukainya. Tak ingin.

Kami diam. Dan senja itu benar-benar kelabu sekaran. Pendar lampu hanya temaram.

Hatiku tak bisa diam dalam kebisuan. Perasaan ini, sebuah lakon kelabu yang sukses mengintip jingga di kejauhan. Tetap sibuk mengemas senyum kelabu tanpa sirat. Dan selamanya berada di atas panggung yang berbeda.

“Maaf Asa. Aku tetap ingin di dunia ini. Sebagai matahari dan bayang jingganya.”

Iklan